Mengenai Saya

Foto Saya
Indonesia
Pimpinan Perusahaan: Zainal Arifin Pimpinan Umum: Jito Pemimpin Redaksi:Daroini Wakil Pemimpin Redaksi: JokoP Redaktur Pelaksana: Saksana Reporter: Ulul Hadi, Frian, R. Toto Sugiharto

Selasa, 16 Desember 2008

DASAR FILSAFAT ILMU

DASAR-DASAR ILMU

A. Ontologi
Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Yang tertua di antara segenap filsafat Yunani yang kita kenal adalah Thales. Atas perenungannya terhadap air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu.
Dalam persoalan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama, kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kedua, kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan).
Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas sekali, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat adalah realitas; realita adalah ke-real-an, Riil artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi hakikat adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.
Ahmad Tafsir mencontohkan tentang hakikat makna demokrasi dan fatamorgana. Pada hakikatnya pemerintahan demokratis menghargai pendapat rakyat. Mungkin orang pernah menyaksikan pemerintahan itu melakukan tindakan sewenang-wenang tidak menghargai pendapat rakyat. Itu hanyalah keadaan sementara, bukan hakiki, yang hakiki pemerintahan itu demokratis. Tentang hakikat yang hakiki dicontohkan, kita melihat suatu objek fatamorgana. Apakah real atau tidak? Tidak, fatamorgana itu bukan hakikat, hakikat fatamorgana itu ialah tidak ada.[1]
Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab “apa” yang menurut Aristoteles merupakan The First Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda.[2] Untuk lebih jelasnya penulis mengemukakan pengertian dan aliran pemikiran dalam ontologi ini.
Kata ontologi berasal dari perkataan Yunani: On = being, dan Logos = logic. Jadi Ontologi adalah The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan).[3] Louis O. Kattsoff dalam Elements of Filosophy mengatakan ontologi itu mencari ultimate reality dan menceritakan bahwa di antara contoh pemikiran ontologi adalah pemikiran Thales, yang berpendapat bahwa airlah yang menjadi ultimate subtance yang mengeluarkan semua benda. Jadi asal semua benda hanya satu saja yaitu air.[4]
Noeng Muhajir dalama bukunya Filsafat Ilmu mengatakan, ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus, menjelaskan yang ada yang meliputi semua realita dalam semua bentuknya.[5] Sedangkan menurut Jujun S. Suriasumantri dalam Pengantar Ilmu dalam Perspektif mengatakan, ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”.[6]
Sementara itu, A. Dardari dalam bukunya Humaniora, Filsafat dan Logika mengatakan, ontologi adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda di mana entitas dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada; dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam hal pemakaiannya akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.[7]
Sidi gazalba dalam bukunya Sistematika Filsafat mengatakan, ontologi mempersoalkan sifat dan keadaan terakhir dari kenyataan. Karena itu ia disebut ilmu hakikat., hakikat yang bergantung pada pengetahuan. Dalam agama ontologi memikirkan tentang Tuhan.[8]
Amsal Bakhtiar dalam bukunya Filsafat Agama I mengatakan ontologi berasal dari kata ontos = sesuatu yang berwujud. Ontologi adalah teori/ilmu tentang wujud, tentang hakikat yang ada. Ontologi tidak banyak berdasar pada alam nyata, tetapi berdasar pada logika semata-mata.[9]
Dari beberapa pengetahuan di atas dapat disimpulkan bahwa :
Menurut bahasa, ontologi ialah berasal dari bahsa Yunani yaitu, On/Ontos = ada, dan Logos = ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada.
Menurut istilah, ontologi ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak.
Term ontologi pertama kali diperkenbalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M. Untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Cristian Wolff (1679-1754 M) membagi metafisis menjadi dua, Yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedang metafisika khusus masih dibagi lagi menjadi kosmologi, psikologi, dan teologi.
Kosmologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta. Psikologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia. Teologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan Tuhan.[10]
Di dalam pemahaman ontologi dapat dikemukakan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut :
1. Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lainnya. Istilah monisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block Universe.[11] Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua aliran :
a. Materialisme
Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohami. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta.[12] Yang ada hanyalah materi yang lainnya jiwa dan ruh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri. Jiwa atau ruh itu hanyalah merupakan akibat saja dari proses gerakan kebenaran dengan salah satu cara tertentu.
Kalau dikatakan bahwa materialisme sering disebut naturalisme, sebenarnya ada sedikit perbedaan di antara dua paham itu. Namun begitu, materialisme dapat dianggap suatu penampakan diri dari naturalisme.[13] Naturalisme berpendapat bahwa alam saja yang ada., yang lainnya di luar alam tidak ada.[14] Yang dimaksud alam disini ialah segala-galanya, meliputi benda dan ruh. Jadi benda dan ruh sama nilainya dianggap sebagai alam yang satu. Sebaliknya, materialisme menganggap ruh adalah kejadian dari benda. Jadi tidak sama nilai benda dan ruh seperti dalam naturalisme.
Dari segi dimensinya, paham ini sering dikaitkan dengan teori Atomisme. Menurut teori ini semua materi tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur. Unsur-unsur itu bersifat tetap, tak dapat dirusakkan. Bagian-bagian yang terkecil dari unsur itulah yang dinamakan atom-atom. Atom dari unsur sama rupanya sama pula, dan sebaliknya. Namun perbedaan hanya mengenai berat dan besarnya. Mereka bisa bersatu menjadi molekul yang terkecil dari atom-atom itu. Selanjutnya atom atom dengan kesatuannya molekul-molekul itu bergerak terus menuruti undang-undang tertentu.[15] Jadi materialisme menganggap bahwa kenyatan ini merupakan suatu mekanis seperti suatu mesin yang besar.
Aliran pemikiran ini dipelopori oleh bapak filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Ia berpendapat bahwa unsur asal adalah air karena pentingnya bagi kehidupan.[16] Anaximander (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur asal itu adalah udara dengan alasan bahwa udara adalah merupakan sumber dari segala kehidupan.[17] Demokritos (460-370 SM) berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat dihitung dan amat halus. Atom-atom inilah yang merupakan asal kejadian alam.[18]
Dalam perkembangannya, sebagai aliran yang peling tua, paham ini timbul dan tenggelam seiring roda kehidupan manusia yang selalu diwarnai dengan filsafat dan agama. Alasan mengapa aliran ini berkembang sehingga memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakikat adalah :[19]
1) Pada pikiran yang masih sederhana, apa yang kelihatan yang dapat diraba, biasanya dijadikan kebenaran terakhir. Pikiran sederhana tidak mampu memikirkan sesuatu di luar ruang yang abstrak.
2) Penemuan-penemuan menunjukkan betapa bergantungnya jiwa pada badan. Oleh sebab itu, peristiwa jiwa selalu dilihat sebagai peristiwa jasmani. Jasmani lebih menonjol dalam peristiwa ini.
3) Dalam sejarahnya manusia memang bergantung pada benda seperti pada padi. Dewi Sri dan Tuhan muncul dari situ. Kesemuanya ini memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakikat adalah benda.
b. Idealisme
Sebagai lawan materialisme adalah aliran idealisme yang dinamakan juga dengan spritualisme. Idealisme berarti seba cita, sedang spritualisme berarti seba ruh,
Idealisme diambil dari kata “Idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari pada penjelmaan ruhani.[20]
Alasan aliran ini yang menyatakan bahwa hakikat benda adalah ruhani, spirit atau sebangsanya adalah :
1) Nilai ruh lebih tinggi dari pada badan, lebih tinggi nilainya dari materi bagi kehidupan manusia. Ruh itu dianggap sebagai hakikat yang sebenarnya. Sehingga materi hanyalah badannya, bayangan atau penjelmaan saja.
2) Manusia lebih dapat memahami dirinya dari pada dunia luar dirinya.
3) Materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang. Benda tidak ada, yang ada energi itu saja.[21]
Materi bagi penganut idealisme sebenarnya tidak ada. Segala kenyataan ini termasuk kenyataan manusia adalah sebagai ruh. Ruh itu tidak hanya menguasai manusia perorangan, tetapi juga kebudayaan. Jadi kebudayaan adalah perwujudan dari alam sita-cita itu adalah ruhani. Karenanya aliran ini dapat disebut idealisme dan dapat disebut spritualisme.
Dalam perkembangannya, aliran ini ditemui pada ajaran Plato (428-348 SM) denga teori idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di alam mesti ada idenya, yaitu konsep universal dari tiap sesuatu.[22] Alam nyata yang menempati ruangan ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam ide itu. Jadi idelah yang menjadi hakikat sesuatu, menjadi dasar wujud sesuatu.[23] Dalam menjelaskan hakikat ide tersebut Plato mengarang mitos penunggu gua yang dimuatnya di dalam dialog politea yang dikutipkan sebagai berikut ini :
Manusia dapat dibandingkan dengan orang-orang tahanan yang sejak lahirnya terkurung dan terbelenggu di dalam gua. Di belakang mereka ada api menyala sementara mereka hanya dapat mengharap ke dinding gua. Beberapa orang budak belian berjalan-jalan di depan api itu sambil memikul bermacam-macam benda. Hal itu mengakibatkan bermacam-macam bayangan yang jatuh pada dinding gua. Karena orang-orang tahanan itu tidak dapat melihat ke belakang, Mereka hanya menyaksikan bayangan, dan bayangan itu disangka mereka sebagai realitas yang sebenarnya dan tidak ada lagi realitas. Namun setelah beberapa waktu seorang tahanan dilepaskan. Ia melihat di belakang mereka, yaitu di mulut gua, ada api yang menyala. Ia mulai memperkirakan, bahwa bayangan-bayangan yang disaksikan mereka tadi bukanlah realita yang sebenarnya. Lalu ia diantar keluar gua, dan ia melihat matahari yang menyilaukan matanya. Mula-mula ia berpikir, bahwa ia sudah meninggalkan realitas. Namun berangsur-angsur ia pun menginsafi bahwa justru itulah ralitas yang sebenarnya, dan ia menyadari bahwa dulu ia belum pernah menyaksikannya. Lalu ia kembali ke dalam gua, ya, ke tempat kawan-kawannya yang masih diikat di situ. Ia bercerita kepada teman-temannya bahwa yang dilihat mereka pada dinding gua itu bukanlah realitas yag sebenarnya, melainkan hanyalah bayangan. Namun, kawan-kawannya tidak mempercayai perkataannya, dan seandainya mereka tidak terbelenggu, pasti ia akan membunuh siapa saja yang mencoba melepaskan mereka dari belenggunya. Kalimat terakhir ini mengisahkan kematian Socrates.[24]
Penjelasan mitos ini adalah bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh indera. Kebanyakan orang dapat diumpamakan orang tahanan yang terbelenggu, mereka menerima pengalaman spontan begitu saja. Namun ada beberapa orang yang mulai memperkirakan bahwa realitas inderawi adalah bayangan, mereka adalah filosof. Mula-mula mereka merasa heran sekali, tetapi berangsur-angsur mereka menemukan ide “yang baik” (matahari) sebagai realitas tertinggi. Untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya itu manusia harus mampu melepaskan diri dari pengaruh indera yang menyesatkan itu.
Aristoteles (384-322 SM) memberikan sifat keruhanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide itu sebagai sesuatu tenaga yang berada dalam benda-benda itu sendiri dan menjalankan pengaruhnya dari dalam benda itu.[25]
Pada filsafat modern, pandangan ini mula-mula kelihatan pada George Barkeley (1685-1753 M) yang menyatakan objek-objek fisis adalah ide-ide. Kemudian Immanuel Kant (1724-1804 M), Fichte (1762-1814 M), Hegel (1770-1831 M), dan Schelling (1775-1854).[26]

2. Dualisme
Setelah kita memahami bahwa hakikat itu satu (monisme) baik materi ataupun ruhani, ada juga pandangan yang mengatakan bahwa hakikat itu ada dua. Aliran ini disebut dualisme. Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Materi buka muncul dari ruh, dan bukan muncul dari benda. Sama-sama hakikat. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama asli dan abadi. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan dalamalamini. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini ialah dalam diri manusia.[27]
Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan). Ini tercantum dalam bukunya Discours De La Methode (1637) dan Meditations De Prima Philosophia (1641). Dalam bukunya ini pula ia menuangkan metodenya yang terkenal dengan Cogito Descartes (metode keraguan Descartes/Cartesian Doubt). Di samping Descartes, ada juga Benedictus De Spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm Von Leibniz(1646-1716 M).[28]
Descartes meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan . Mula-mula ia mencoba meragukan semua yang dapat diindera, objek yang sebenarnya tidak mungkin diragukan. Dia meragukan badannya sendiri. Karagauan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi, dan juga pada pengalaman dengan ruh halus ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Pada empat keadaan seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya. Di dalam mimpi seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi persis seperti tidak mimpi (jaga), begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi, dan kenyataan gaib. Tida ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Akibatnya ia menyatakan bahwa ada satu yang tidak dapat diragukan yaitu saya sedang ragu. Boleh saja badan saya ini saya ragukan adanya, hanya bayangan, misalnya atau hanya seperti dalam mimpi, tetapi mengenai saya sedang ragu benar-benar tidak dapat diragukan adanya.
Aku yang sedang ragu ini disebabkan oleh aku berpikir. Kalau begitu aku berpikir pasti ada dan benar. Jika berpikir ada, berarti aku ada sebab yang berpikir itu aku. Cogito Ego Sum, aku berpikir jadi aku ada. Paham ini kemudia terkenal dengan rasionalisme, yaitu paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.[29]
Umumnya manusia tidak akan mengalami kesulitan untuk menerima prinsip dualisme ini, karena setiap kenyataan lahir dapat segegra ditangkap oleh pancaindera kita, sedang kenyataan batin dapat segera diakui adanya oleh akal dan perasaan hidup.

3. Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata.[30] Pluralisme dan Dictionary of Philosophy dan Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahw a kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu berbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara.[31]
Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M)., kelahiran New York dan terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Dalam bukunya The Meaning of Truth, James mengemukakan, tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus, dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena dalam praktiknya apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu, tiada kebenaran yang mutlak yang ada adalah kebenaran-kebenaran yaitu apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman yang khusus yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.[32] Kenyataan terdiri dari banyak kawasan yang berdiri sendiri. Dunia bukanlah suatu universum, melainkan suatu multi-versum.[33] Dunia adalah suatu dunia yang terdiri dari banyak hal yang beraneka ragam atau pluralis.

4. Nihilisme
Nihilisme berasal dari Bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev dalam novelnya Fathers and Children yang ditulisnya pada tahun 1862 di Rusia. Dalam novel itu Bazarov sebagai tokoh sentral mengatakan lemahnya kutukan ketika ia menerima ide nihilisme.[34]
Doktrin tentang nihilisme sebenarnya sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, yaitu pada pandangan Gorgias (483-360 SM) yang memberikan tiga proporsi tentang realitas. Pertama, tidak ada sesuatu pun yang eksis. Realitas itu sebenarnya tidak ada. Bukanlah Zeno juga pernah sampai pada kesimpulan bahwa hasil pemikiran itu selalu tiba pada paradoks. Kita harus menyatakan bahwa realitas itu tunggal dan banyak, terbatas dan tak terbatas, dicipta dan tak dicipta, karena kontradiksi tidak dapat diterima, maka pemikiran lebih baik tidak menyatakan apa-apa tentang realitas. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Ini disebabkan oleh pengindraan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu ssumber ilusi. Akal juga tidak mampu meyakinkan kita tentang bahan alam semesta ini karena kita telah dikungkung oleh dilema subjektif. Kita berpikir sesuai dengan kemauan. Ide kita, yang kita terapkan pada fenomena. Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui,ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.[35]
Tokoh lain aliran ini adalah Friedrich Nietzzche (1844-1900 M). di lahirkan di Rocken di Prusia, dari keluarga pendeta. Dalam pandangannya bahwa “Allah sudah mati”, Allah Kristiani dengan segala perintah dan larangannya sudah tidak merupakan rintangan lagi. Dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Mata manusia tidak lagi diarahkan pad asuatu dunia di belakang atau diatas dunia di mana ia hidup. Nietsche mengakui bahwa pada kenyataannya moral di Eropa sebagaian besar masih bersandar pda nilai-nilai Kristiani. Tetapi tidak dapat dihindarkan bahwa nilai-nilai itu akan lenyap. Dengan sendirinya itu manusia modern ternacam nihilisme. Dengan demikian ia sendiri harus mengatasi bahaya itu dengan menciptakan nilai-nilai baru, dengan transvaluasi semua nilai.[36]

5. Agnostisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata Agnosticisme berasal dari bahasa Grik Agnostos yang berarti unknown. A artinya not, Gno artinya know.[37]
Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat trancendent.[38]
Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti, Soren Kierkegard, Heidegger, Sartre, dan Karl Jaspers. Soren Kierkegard (1813-1855 M) yang terkenal dengan julukan sebagai bapak filsafat Eksistensialisme menyatakan, manusia tidak pernah hidup sebagai suatu aku umum, tetapi sebagai aku individual yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu yang lain.[39]
Sementara itu, Martin Heidegger (1889-1976 M), seorang filosof Jerman mengatakan, satu-satunya yang ada itu ialah manusia, karena hanya manusialah yang dapat memahami dirinya sendiri. Jadi dunia ini adalah bagi manusia tidak ada persoalan bagi alam metafisika.[40]
Pada pemahaman lainya, Jean Paul Sartre (1905-1980 M), seorang filosof dan sastrawan Perancis yang ateis sangat terpengaruh dengan pikiran ateisnya mengatakan bahwa manusia selalu menyangkal. Hakikat beradanya manusia bukan etre (ada) melainkan a etre (akan atau sedang). Segala perbuatan manusia tanpa tujuan karena tidak ada yang tetap (selalu disangkal).[41] Segala sesuatu mengalami kegagalan. Das sein (ada/berada) dalam cakrawala gagal. Ternyata segala macam nilai hanya terbatas saja. Manusia tidak boleh mencari dan mengusahakan kegagalan dan keruntuhan. Sebab hal itu bukanlah hal yang asli. Kegagalan dan keruntuhan itu mewujudkan tulisan sandi (chiffre) sempurna dari “ada”. Di dalam kegagalan dan keruntuhan itu orang mengalami “ada” mengalami yang transenden.[42]
Karl Jaspers (1883-1969 M) menyangkal adanya suatu kenyataan yang transenden. Yang mungkin itu hanyalah manusia berusaha mengatasi dirinya sendiri dengan membawakan dirinya yang belum sadar kepada kesadaran yang sejati, namun suatu yang mutlak (trancendent) itu tidak ada sama sekali.[43]
Jadi Agnostisisme adalah paham pengingkaran atau penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahui hakikat benda baik materi maupun ruhani. Aliran ini mirip dengan skeptisme yang berpendapat bahwa manusia diragukan kemampuannya mengetahui hakikat.[44] Namun tampaknya agnostisme lebih dari itu karena menyerah sama sekali.
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: Rosdakarya, 2002), hlm. 24.

[2] Romdon, Ajaran Ontologi Aliran Kebatinan, (Jakarta: Rajawali Press, ed. I, cet. I, 1996), hlm. X.

[3] Lih. James K. Feibleman, Ontologi dalam Dagobert D. Runes (ed), Dictinary Philoshopy, (Totowa New Jersey : Little Adam & Co., 1976), hlm. 219.

[4] Louis O. Katsoff, Element of philosophy, (New York: The Roland Press company, 1953), hlm. 178.

[5] Noeng Muhajir, Filsafat Ilmu, Positivisme, dan Post Modernisme, (Yokyakaarta: Rekesarin, ed. II., cet. I, 2001), hlm. 57.

[6] Jujun S. Suriasumantri. Tentang Hakikat Ilmu, dalam Ilmu dalam Perspektif, (Jakarta: Gramedia, cet. VI, 1985), hlm. 5.

[7] A. Dardiri, Humaniora, Filsafat, dan Logika, (Jakarta: Rajawali , ed. I, cet. I. 1986), hlm. 17.

[8] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, pengantar kepada Teori Pengetahuan Buku II, (Jakarta: Bulan Bintang, cet. I. 1973), hlm. 106.

[9] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama I, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, cet. I. 1997), hlm. 169.

[10] Paul Edward, (ED), The Ancyclopedia of Philosofhy, (New York: Mac Millan Publishing Co., ed. II, 1972), hlm. 542.

[11] Ibid, hlm. 363.

[12] Sunarto, Pemikiran Tentang Kefilsafatan Indonesia, (Yokyakarta: Andi Offset, 1983), hlm. 70.

[13] Hasbullah Bakry, Op.cit., hlm. 52.

[14] Louis O. Kattsoff, Element of Philosophy, terj. Soejono Soemargono, Pengantar Filsafat, (Yokyakarta: Tiara Wacana, cet. VII. 1996), hlm. 216.

[15] Hasbullah Bakry, Op. cit., hlm. 53.

[16] Ahmad Tafsir, Op.cit., hlm. 29.

[17] Ibid.

[18] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hlm. 64.

[19] Ahmat Tafsir, Op.cit, hlm. 29.

[20] Hasbullah bakry, op. cit., hlm. 56. Lih. Juga Sunoto, op. cit., hlm. 70.

[21] Ahmad Tafsir, op. cit., hlm. 30.

[22] Ahmad Bakhtiar, op. cit., hlm. 169.

[23] Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta : Bulan Bintang , 1982), hlm . 53.

[24] Ahmad Tafsir, op. cit., hlm. 56-57.

[25] Hasbullan Bakry, hlm. 57.

[26] Keterangan lebih lengkap tentang pandangan idealismemereka dapat dilihat pada A. Tafsir, hlm. 144-172.

[27] Ibid, hlm. 51, lih juga A. Tafsir, op. cit., hlm 30.

[28] Penjelasan lebih mendekati lihat Harun hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yokyakarta: Kanisius, cet. 18, 2002), hlm. 18.

[29] Ibid, lih. Juga K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yokyakarta: Kanisius, cet. 18, 2001), hlm. 45.

[30] Sunarto, op. cit., hlm. 71.

[31] William L. reese, Dictionary of Philosophy and Religion, Eastem and Western Thought, (New York: Humanity Books, 1996), hlm. 591.

[32] Harun Hadiwijono, op. cit., hlm. 132.

[33] Ibid, hlm. 133.

[34] Paul Edwards (ed), op. cit., hlm. 515.

[35] A. Tafsir, op. cit., hlm. 515.

[36] K. Bertens, op. cit., hlm. 89.

[37] A. Tafsir, op.cit. hlm. 30.

[38] Hasbullah Bakry, op. cit.,hlm. 60.

[39] A. Tafsir, op, cit., hlm. 222.

[40] Hasbullah bakry, op. cit., hlm. 60.

[41] A. Tafsir, op. cit., hlm. 229.

[42] Keterangan lebih mendalam lihat Muzairi, Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Sumur tanpa Dasar kebebasan manusia, (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, cet. I, 2002), hlm. 131.

[43] Hasbullah Bakry, op. cit., hlm. 60.

[44] A. Tafsir, op. cit., hlm. 30

Tidak ada komentar: